Karena itu, kata Puji, penelitian yang mengarah pada peningkatan produktivitas, kualitas cabai dan pengelolaan terhadap organisme pengganggu tanaman secara berkesinambungan perlu terus dilakukan.
Hal ini disampaikan dalam acara yang digelar Pusat Riset Hortikultura dan Perkebunan (PRHP) BRIN, dengan tema “Teknologi Menjawab Tantangan dan Permasalahan Cabai Nasional” Senin (17/7) secara virtual.
Cabai merupakan komoditas sayuran komersial yang penting di dunia, bernilai ekonomi tinggi dan memberi banyak peluang keuntungan dari penjualan cabai segar, produk olahan hingga cabai keringnya.
Dalam perdagangan cabai secara global, tercatat 118 negara menjadi importir cabai dan 34 negara menjadi eksportir cabai.
Puji mengatakan terobosan inovasi teknologi baru pada cabai dapat difokuskan pada penggunaan benih unggul varietas lokal. Ini dapat dilakukan melalui penggalian potensi varietas cabai lokal yang telah terdaftar serta mendorong pendaftaran varietas lokal yang belum terdaftar serta perakitan varietas unggul.





Komentar tentang post