Haruskah Bahasa Indonesia Dilarang di Kelas Bahasa Inggris?

Zulkifli Tanipu, M.A.,Ph.D. FOTO: KOLEKSI PRIBADI

Zulkifli Tanipu, M.A.,Ph.D., Dosen Tetap Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo

Darilaut –  “Speak English, please!” Kalimat itu hampir selalu terdengar di kelas bahasa Inggris. Banyak guru berusaha menciptakan lingkungan yang sepenuhnya menggunakan bahasa Inggris dengan harapan mahasiswa lebih cepat fasih.

Di sisi lain, tidak sedikit dosen yang sesekali kembali menggunakan bahasa Indonesia ketika menjelaskan konsep yang sulit. Lalu, mana yang sebenarnya lebih tepat? Haruskah bahasa Indonesia benar-benar dilarang di kelas bahasa Inggris?

Selama bertahun-tahun, penggunaan bahasa pertama sering dipandang sebagai hambatan dalam pembelajaran bahasa asing. Mahasiswa yang mencampur bahasa dianggap kurang disiplin, sementara guru yang menjelaskan dalam bahasa Indonesia dinilai mengurangi paparan bahasa Inggris.

Cara pandang ini kemudian melahirkan keyakinan bahwa semakin sedikit bahasa Indonesia digunakan, semakin baik hasil belajar bahasa Inggris.

Pandangan tersebut mulai bergeser ketika konsep translanguaging berkembang dalam kajian pendidikan bahasa. Translanguaging melihat bahasa pertama bukan sebagai pengganggu, tetapi sebagai sumber daya kognitif.

Ketika mahasiswa menemui konsep yang kompleks, menggunakan bahasa Indonesia sesaat dapat membantu mereka memahami makna sebelum kembali menggunakan bahasa Inggris. Dalam situasi seperti ini, bahasa pertama berfungsi sebagai scaffolding atau penyangga belajar, bukan sebagai pengganti bahasa Inggris.

Namun, di sinilah letak batas yang sering terabaikan. Scaffolding seharusnya bersifat sementara. Jika setiap kesulitan selalu diselesaikan dengan kembali ke bahasa Indonesia, mahasiswa kehilangan kesempatan untuk memproses bahasa Inggris secara langsung. Mereka akhirnya lebih terampil menerjemahkan daripada berpikir dalam bahasa Inggris.

Itulah yang disebut sebagai risiko penyalahgunaan translanguaging: bukan konsepnya yang keliru, tetapi cara penerapannya yang berlebihan.

Dari perspektif psikolinguistik, perpindahan bahasa memang dapat mengurangi beban kognitif. Otak tidak perlu bekerja terlalu keras ketika makna segera dipahami melalui bahasa yang sudah dikuasai.

Akan tetapi, tujuan pembelajaran bahasa bukan hanya memahami makna, melainkan membangun kemampuan memproses bahasa Inggris secara mandiri. Jika beban kognitif selalu dihindari, kemampuan tersebut justru berkembang lebih lambat.

Pertanyaannya bukan lagi boleh atau tidak boleh menggunakan bahasa Indonesia, melainkan kapan bahasa Indonesia diperlukan. Saat memperkenalkan konsep linguistik yang rumit atau menjelaskan instruksi penelitian, penggunaan bahasa Indonesia dapat membuat pembelajaran lebih efisien.

Sebaliknya, ketika mahasiswa sedang berdiskusi, presentasi, atau menulis, ruang untuk menggunakan bahasa Inggris perlu diperluas agar proses berpikir dalam bahasa tersebut benar-benar terbentuk.

Ruang kelas yang baik bukan ruang yang memaksa mahasiswa meninggalkan bahasa Indonesia, tetapi ruang yang tahu kapan harus menjadikannya jembatan dan kapan tidak mengunakannya.

Sebab tujuan akhir pembelajaran bahasa Inggris bukan menghasilkan penerjemah yang baik, melainkan pembelajar yang mampu memahami, berpikir, dan berkomunikasi secara langsung dalam bahasa Inggris. (Zulkifli Tanipu, alumnus The University of Sheffield – Psycholinguistics, Inggris)

Exit mobile version