Serangan Ubur-Ubur Api Paling Sering di Pesisir Selatan Pulau Jawa

Ubur-ubur api (Physalia physalis) dan ilustrasi struktur keempat zooidnya. (Dunn, Pugh, & Haddock (2005) dan Munro et al. (2019)/FIRDAUS (2020)

Darilaut – Ubur-ubur api termasuk hewan kosmopolit. Secara global sebarannya meliputi perairan tropis dan subtropis.

Hewan tersebut biasanya ditemukan terdampar di pesisir-pesisir perairan di Samudra Atlantik, Hindia dan Pasifik, yaitu antara 55 derajat Lintang Utara hingga 40 derajat Lintang Selatan.

Di Samudra Pasifik, ubur-ubur api (Physalia physalis) tercatat pernah ditemukan di perairan Chili bagian utara, New Zealand, Hawai dan perairan timur Australia. Untuk perairan Hindia, ubur-ubur api ditemukan di Indonesia, India, Srilangka dan perairan barat Australia.

Di Samudera Atlantik, ubur-ubur api pernah ditemukan di perairan Teluk Meksiko, Brazil, Florida. Ubur-ubur api merupakan spesies yang umum di perairan Brazil, terutama di perairan utara dan timur laut.

Untuk wilayah Indonesia, data keberadaan ubur-ubur api banyak dilaporkan dalam berita jurnalistik. Hal ini didasarkan pada laporan serangan ubur-ubur api terhadap wisatawan yang sedang berlibur di pantai.

Menurut peneliti dari Pusat Penelitian Oseanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Mochamad Ramdhan Firdaus, jika ditelusuri dari berita jurnalistik selama 10 tahun terakhir (2011–2020), daerah yang sering dilaporkan mendapat serangan ubur-ubur api setiap tahun adalah pesisir selatan Pulau Jawa dan pesisir barat pulau Sumatra.

Firdaus menguraikan soal ubur-ubur api dengan judul “Aspek Biologi Ubur-ubur Api, Physalia physalis (LINNAEUS, 1758)“ dalam jurnal Oseana (2020).

Berdasarkan berita-berita jurnalistik tersebut, menurut Firdaus, ledakan populasi ubur-ubur api di pantai selatan Pulau Jawa selalu terjadi saat musim timur berlangsung, yaitu antara bulan Juni hingga September.

Namun demikian, kapan tepatnya ledakan populasi ubur-ubur api terjadi tidak dapat dengan mudah diprediksi.

Hal ini dikarenakan laporan saintifik mengenai data sebaran, waktu, dan frekuensi kemunculan ubur-ubur api di Indonesia masih sulit diperoleh.

Di Indonesia, pada tahun 2019 dilaporkan terjadi 612 kasus serangan ubur-ubur api hanya untuk sebagian wilayah pesisir selatan Gunung Kidul Yogyakarta. Padahal berdasarkan laporan jurnalistik, pada tahun 2019 ubur-ubur api tersebar hampir di sepanjang pesisir selatan Jawa dan beberapa lokasi di perairan Sumatra.

Oleh karena itu, jumlah kasus serangan ubur-ubur api di Indonesia diperkirakan jauh lebih besar.

Ubur-ubur api yang setiap tahun ditemukan di perairan Indonesia merupakan salah satu anggota Filum Cnidaria (Physaliidae) yang hingga saat ini diyakini hanya ada satu jenis saja (monotypic) di dunia, yaitu Physalia physalis.

Kendati demikian, sebagian peneliti menduga adanya keragaman yang tersembunyi (cryptic diversity) pada ubur-ubur api.

Sejauh ini, informasi ilmiah mengenai ubur-ubur api di perairan Indonesia masih sulit diperoleh karena masih minimnya riset ubur-ubur api.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi perkembangan riset ubur-ubur di Indonesia untuk merumuskan tindakan penanganan ledakan populasi ubur-ubur api yang efektif.

Tantangan lain adalah bagaimana respon ubur-ubur api terhadap perubahan iklim dan dampak negatif ubur-ubur api terhadap perikanan nasional.

Studi ekologi dan genetika populasi ubur-ubur api di perairan Indonesia saat ini menjadi salah satu fokus studi dari Pusat Penelitian Oseanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Ubur-ubur api merupakan kelompok hewan “pleustonik”, yaitu makhluk hidup yang hidup di permukaan air yang merupakan area kontak antara atmosfer dan air.

Ubur-ubur api satu-satunya anggota siphonophora yang bersifat pleustonik. Sifat pleustonik pada ubur-ubur api didukung oleh adanya pneumatophore yang membuatnya mampu tetap mengapung di permukaan air.

Terdapat simbiosis komensalisme ubur-ubur api dengan jenis ikan juvenil. Beberapa ikan juvenil diketahui sering terlihat berada dekat dengan ubur-ubur api.

Misalnya ikan Nomeus gronorii (man-of-war fish), Mupus maculatus (spotted ruff), Naucrates ductor (pilot fish), Macrorhamphosus scolopax (long snipefish) dan Caranx bartholomaei (yellow jack).

Ikan-ikan tersebut mendapat manfaat perlindungan dari serangan predator dengan berada di dekat tentakel ubur-ubur api.

Selain itu, ikan-ikan tersebut diketahui memakan sisa-sisa makanan dan tentakel regeneratif tanpa menyakiti ubur-ubur api. Atas dasar tersebut, para peneliti meyakini adanya simbiosis komensalisme antara ubur-ubur api dan ikan-ikan tersebut.

Sebagai hewan pleustonik, ubur-ubur api dihadapkan pada beberapa kondisi lingkungan yang ekstrem (critical situation) di permukaan laut. Misalnya paparan intens sinar ultra-violet, suhu tinggi, penguapan cairan tubuh (dessication), dan gelombang ombak.

Berada di permukaan air juga membuat ubur-ubur api menjadi target yang mudah dilihat oleh predator. Walau demikian, warna ubur-ubur api yang transparan memberikan keuntungan untuk berkamuflase menyerupai warna air laut.

Sumber: Mochamad Ramdhan Firdaus, Pusat Penelitian Oseanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, dengan judul “Aspek Biologi Ubur-ubur Api, Physalia physalis (LINNAEUS, 1758)“. Jurnal Oseana, Volume 45, Nomor 2 Tahun 2020: 50–68.

Exit mobile version