Tulidu: Agar Motulidu, Harus Molu’udu

Dr. Funco Tanipu. FOTO: DARILAUT.ID

Oleh: Dr. Funco Tanipu (Sosiolog, Founder The Gorontalo Insitute)

Dalam bahasa Gorontalo, tulidu punya dua makna yang saling bertolak belakang namun saling menjelaskan: ular dan lurus. Dua arti ini bukan kebetulan, melainkan cermin cara orang Gorontalo memahami kehidupan.

Sebagai kata benda, tulidu berarti ular — makhluk yang selalu libu-libudu (melilit), molohungo (memutar), dan yibu-yibungo (melingkar-lingkar). Tak pernah lurus. Namun sebagai kata sifat, tulidu-motulidu berarti lurus, tegak, jujur, dan bersih.

Dari dua makna ini, muncul renungan yang dalam. Ular tidak pernah lurus. Karena itu orang Gorontalo bertanya dengan nada lembut tetapi menusuk: omoluwo tulidu motulidu? — kapan ular bisa lurus?

Pertanyaan ini sesungguhnya ditujukan pada manusia. Selama hati masih berliku, penuh tipu daya dan keinginan, maka manusia pun belum otulide lo hilawo.

Dari pertanyaan itulah muncul kesadaran bahwa hati — hilawo — harus dijaga. Hilawo musi popotulidulo, hati harus diluruskan. Hati yang jamotulidu (tidak lurus) pasti ayita-ayita’o (terikat) pada selain Ode Eeya dan akan terus berputar seperti tulidu yang melilit pada tango-tangowalo (ranting) dan hitango-tangowa (bercabang). Maka tugas manusia adalah melepaskan lilitan itu agar hati kembali tegak.

Kesadaran itu tergambar dalam kalimat yang masih diingat banyak orang Gorontalo:

“Tiimidu hilawo u odungga lo u melibudu, u yibu-yibungo, boli u totohunga, uwito saati liyo momate umo’o yibungo, umo’o lilibude, umo’o tohunga.”

Artinya, pada saat itulah sifat hati yang berliku harus dimatikan. Selama hilawo masih libu-libudu dan yibu-yibungo, manusia belum bebas. Hanya ketika ia mematikan semua kelokan hawa nafsu, barulah ia hidup dalam kelurusan — motulidu. Dalam artian, de matepo tulidu, de uwito mali motulidu.

Dari kesadaran ini, doa dalam Al-Fatihah memperoleh makna yang begitu dekat: ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm — “Tunjukilah kami jalan yang lurus.” Jalan yang lurus atau dalala u motulidu boyito, tita ta mopotunu? Bo Eeya yang sanggup mopootulidu (meluruskan) hati yang bengkok. Inilah hubungan antara bahasa, doa, dan jiwa: manusia berikhtiar, Tuhan yang menegakkan.

Secara lebih teknis, pemahaman ini juga tercermin dalam kehidupan beribadah. Dalam bahasa Gorontalo, sholat disebut motabiya, dari ungkapan tabi-tabi to Eeya, artinya mengikuti langsung atau terpaut terus kepada Allah. Tetapi orang sadar, tabi-tabi to Eeya adalah derajat tinggi yang sulit dicapai. Maka digunakanlah kata molu’udu — mengikuti. Mengikuti jalan yang lurus, mengikuti Nabi Muhammad ﷺ, mengikuti bimbingan pewarisnya yang benar. Sebab siapa yang berjalan sendiri akan kembali berputar seperti tulidu. Bolo mamoheliliya loma’o.

Dari sanalah dapat disimpulkan dengan kalimat yang singkat tapi dalam: “Agar motulidu, harus molu’udu.” Agar hati lurus, manusia harus mengikuti — molu’udu ahali medungga Ode Eeya. Dengan mengikuti jalan yang benar, hilawo musi motulidu, hati menjadi lurus di hadapan-Nya.

Exit mobile version