Oleh: Dr. Funco Tanipu (Sosiolog, Founder The Gorontalo Insitute)
Dalam bahasa Gorontalo, tulidu punya dua makna yang saling bertolak belakang namun saling menjelaskan: ular dan lurus. Dua arti ini bukan kebetulan, melainkan cermin cara orang Gorontalo memahami kehidupan.
Sebagai kata benda, tulidu berarti ular — makhluk yang selalu libu-libudu (melilit), molohungo (memutar), dan yibu-yibungo (melingkar-lingkar). Tak pernah lurus. Namun sebagai kata sifat, tulidu-motulidu berarti lurus, tegak, jujur, dan bersih.
Dari dua makna ini, muncul renungan yang dalam. Ular tidak pernah lurus. Karena itu orang Gorontalo bertanya dengan nada lembut tetapi menusuk: omoluwo tulidu motulidu? — kapan ular bisa lurus?
Pertanyaan ini sesungguhnya ditujukan pada manusia. Selama hati masih berliku, penuh tipu daya dan keinginan, maka manusia pun belum otulide lo hilawo.
Dari pertanyaan itulah muncul kesadaran bahwa hati — hilawo — harus dijaga. Hilawo musi popotulidulo, hati harus diluruskan. Hati yang jamotulidu (tidak lurus) pasti ayita-ayita’o (terikat) pada selain Ode Eeya dan akan terus berputar seperti tulidu yang melilit pada tango-tangowalo (ranting) dan hitango-tangowa (bercabang). Maka tugas manusia adalah melepaskan lilitan itu agar hati kembali tegak.




