Hasil riset sampah yang sudah dilakukan SaLut menemukan sampah berupa botol plastik yang mendominasi di Pulau Nasi, yakni 50,7 persen. Botol bukan plastik 41,5 persen dan sampah bukan plastik 7,7 persen.
Berdasarkan identifikasi merk dagang menunjukkan bahwa merk dari Indonesia memiliki persentase terbesar, yakni 53,7 persen. Sampah plastik merk luar negeri berasal dari Maladewa, Malaysia dan China. Sampah lainnya seperti Thailand, Singapura, Sri Lanka, India, Bangladesh dan Myanmar.
Identifikasi sampah di pantai Deudap Pulau Nasi, menggunakan standar yang telah ditetapkan National Oceanic and Athmospheric Administration (NOAA). Metode ini dikenal dengan shoreline methods dan jenis accumulation survey.
Sampah dikumpulkan dalam transek 3 m x 100 m yang dibagi menjadi 3 plot dan dilakukan selama 2 jam. Semua sampah anorganik yang berukuran >2.5 cm diambil dan dicatat dalam lembar catatan yang sudah dimodifikasi oleh Greenpeace Indonesia.
Ancaman sampah plastik ini cukup serius dan perlu mendapatkan solusi bersama untuk penanggulangannya. Yang paling nyata saat ini dengan melakukan penyusunan rencana aksi bersama penanggulangan sampah plastik di kawasan pesisir pantai Aceh, terutama di pesisir pantai Aceh Besar.
Riset lanjutan akhir Desember 2018, tahun ini, penting dilakukan sebagai data tambahan untuk mengetahui kondisi terbaru pesisir pantai Deudap Pulau Nasi, Kecamatan Pulau Aceh, Kabupaten Aceh Besar.*





Komentar tentang post