Darilaut – Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Arianti Hatmanti mengatakan bumi adalah satu-satunya planet dengan kehidupan manusia. Oleh karena itu, limbah hasil aktivitas manusia (antropogenik) tetap banyak.
Limbah antropogenik tersebut berupa limbah domestik (protein, nutrisi, eutrofikasi, HAB), limbah minyak, limbah industri, limbah plastik, dan lain-lain.
“Sampah plastik kini menjadi sampah paling banyak di lingkungan, khususnya di lautan. Plastik, apalagi mikroplastik sulit terdegradasi, dan terakumulasi dalam biota laut,” kata Arianti seperti dikutip dari Oseanografi.lipi.go.id.
Menurut Forum Ekonomi Dunia, pada tahun 2050 akan ada lebih banyak plastik daripada ikan di lautan.
Kota-kota di Indonesia, kata Arianti, khususnya di pesisir, menyumbang sekitar 3,22 juta ton berbagai jenis sampah ke lautan, termasuk sampah plastik.
Sampah plastik bisa mencapai 0,48-1,29 juta metrik ton/tahun. Hal ini menunjukkan bahwa setiap keluarga di Indonesia bisa menyumbang antara 178 hingga 480 juta sampah plastik per tahun.
Karena itu, perlu adanya rencana strategis dalam pengelolaan sampah. Urutan pertama, kita harus mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai dan meningkatkan sistem pengelolaan limbah padat secara global.





Komentar tentang post