Darilaut – Tiga senyawa kimia, karbon dioksida (CO2), metana (CH4) dan Nitrous Oxide (N2O) penyumbang gas rumah kaca terbanyak.
Dalam siaran pers Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization – WMO) Rabu (15/11) karbon dioksida merupakan gas rumah kaca terpenting di atmosfer, menyumbang sekitar 64%. Kemudian, metana menyumbang sekitar 16% dan Nitrous Oxide (N2O) sekitar 7%.
Indeks Gas Rumah Kaca Tahunan menunjukkan bahwa dari tahun 1990 hingga 2022, dampak pemanasan terhadap iklim kita – called radiative forcing – oleh gas rumah kaca yang berumur panjang – meningkat sebesar 49%. Dari jumlah tersebut, karbon dioksida menyumbang sekitar 78%.
Karbon dioksida yang berdampak pemanasan terhadap iklim, terutama akibat pembakaran bahan bakar fosil dan produksi semen.
Peningkatan rata-rata tahunan sebesar 2,2 bagian per juta (ppm) dari tahun 2021 hingga 2022 sedikit lebih kecil dibandingkan tahun 2020 hingga 2021 dan selama dekade terakhir (2,46 ppm tahun).
Alasan yang paling mungkin adalah peningkatan penyerapan CO2 di atmosfer oleh ekosistem darat dan laut setelah beberapa tahun terjadinya peristiwa La Nina.
Oleh karena itu, perkembangan peristiwa El Nino pada tahun 2023 dapat berdampak pada konsentrasi gas rumah kaca.
Sementara metana adalah gas rumah kaca yang kuat dan bertahan di atmosfer selama sekitar satu dekade.




