Darilaut – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sedang mengembangkan kapal hybrid layar penangkap rajungan yang dapat beroperasi selama 10 hari dengan sistem penggerak layar dan listrik. Kapal ini menghemat penggunaan bahan bakar minyak hingga 76% tiap perjalanan.
Perekayasa Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika (PRTH) BRIN, Nanang Setiyobudi, menjelaskan bahwa kelompok risetnya saat ini sedang mengembangkan inovasi kapal hybrid layar penangkap rajungan.
Menurut Nanang, riset tersebut mengusung penerapan teknologi ramah lingkungan, dengan fokus pada kearifan lokal kapal dan api bubu kubah di Rembang Jawa Tengah untuk mendukung kampung nelayan merah putih dan ekonomi biru.
“Tantangan para nelayan kecil adalah tidak bisa menjangkau perairan yang lebih jauh dari pesisir, rata-rata nelayan kecil hanya mampu mencapai jarak 12 NM,” kata Nanang seperti dikutip dari Brin.go.id.
Ukuran rajungan yang tertangkap masih berukuran kecil sebab ukuran rajungan yang berukuran lebih dari 13 cm berada diperairan dalam yang sulit dijangkau oleh kapal nelayan kecil, kata Nanang.
Kemudian, besarnya biaya operasional terutama dari bahan bakar minyak mencapai 70% dari total pengeluaran operasional.
BRIN menawarkan solusi riset dan inovasi pengembangan kapal layar menggunakan tenaga angin dan hybrid listrik, kata Nanang.




