Darilaut – Upaya memperdalam pemahaman terhadap dampak ekstraktivisme di wilayah Gorontalo kembali dilakukan oleh Tim Riset Ekstraktivisme PT. GM melalui observasi dan diskusi bersama warga di dua desa yang berada dekat kawasan tambang, yakni Desa Pangi dan Desa Tulabolo. Kedua desa yang berjarak sekitar 25 kilometer dari pusat Kota Gorontalo ini selama bertahun-tahun menjadi kawasan penyanggah bagi aktivitas pertambangan yang intens di wilayah sekitarnya. Kondisi ini membuat masyarakat, terutama perempuan, hidup berdampingan dengan berbagai risiko lingkungan yang muncul akibat operasi tambang.
Pada (19/11), sebuah Diskusi Kampung bertema “Perempuan dan Lingkungan” digelar di Desa Tulabolo. Kegiatan ini menghadirkan berbagai elemen masyarakat mulai dari ibu rumah tangga, tokoh perempuan lokal, hingga para tukang ojek penambang yang sehari-hari beraktivitas di kawasan pertambangan. Diskusi tersebut bertujuan menggali perspektif, pengalaman, sekaligus memperkuat kesadaran perempuan dalam menghadapi dampak ekologi dari aktivitas ekstraktif yang kian dirasakan masyarakat.
Aktivitas tambang di sekitar Desa Pangi dan Tulabolo selama ini memberikan dampak langsung pada kondisi lingkungan, terutama pada kualitas air dan tanah yang menjadi sumber utama kehidupan warga. Penurunan kualitas air, kerusakan tanah, dan meningkatnya risiko pencemaran menjadi isu utama yang dihadapi masyarakat. Dampak tersebut paling dirasakan oleh kelompok perempuan, yang dalam kesehariannya bergantung pada sumber daya alam untuk kebutuhan rumah tangga maupun aktivitas ekonomi seperti berkebun, mengolah hasil tani, dan memenuhi kebutuhan air bersih.




