Darilaut – Risiko gempa megathrust kembali menjadi sorotan komunitas ilmiah global. Pemahaman mengenai pergerakan kerak bumi, tanda-tanda awal sebelum terjadinya gempa besar, hingga strategi mitigasi berbasis teknologi terus dikembangkan untuk mengurangi dampak bencana di wilayah rawan. Isu penting tersebut menjadi fokus dalam Geohazard Webinar #5 bertema “Understanding Geohazard With GNSS” yang digelar Pusat Riset Kebencanaan BRIN secara daring, Selasa (2/12).
Mengutip yang di sampaikan BRIN dalam webinar tersebut, tiga pakar geofisika dan geodesi memaparkan temuan terkini terkait potensi megathrust dan bagaimana Indonesia dapat mengantisipasinya melalui integrasi teknologi pemantauan deformasi jangka panjang.
Prof. Kosuke Heki dari Hokkaido University, yang tengah menjadi Visiting Researcher di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, membuka paparan dengan menjelaskan dinamika megathrust di zona Nankai Trough, Jepang. Menurutnya, kawasan tersebut telah lama menjadi laboratorium alam yang memberikan pelajaran penting bagi negara-negara yang berada di jalur subduksi, termasuk Indonesia.
Ia menjelaskan bahwa gempa besar berkekuatan magnitudo 8 di zona tersebut memiliki interval kejadian relatif pendek, yakni sekitar 50 hingga 100 tahun.
“Ini adalah pandangan klasik kami sebelum terjadi gempa bumi besar,” ujar Kosuke. Ia menekankan bahwa potensi gempa besar tetap ada meski waktunya sulit diprediksi.




