Darilaut – Aparat kepolisian di Yogyakarta mendatangi dan mempertanyakan Diskusi Buku “Pembangunan untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami” yang dilaksanakan Konde.co, Marjin Kiri, dan Trend Asia, pada Senin (22/12).
Buku ini diterbitkan dengan tujuan membawa cerita perempuan sebagai pengetahuan politik yang menantang narasi pembangunan arustama yang maskulin, teknokratis, dan kolonial.
Dalam pernyataan sikap, Konde.co, Marjin Kiri, Trend Asia, mengatakan kehadiran aparat kepolisian yang terus berada di lokasi dengan tujuan mengawasi jalannya diskusi hingga selesai menunjukkan praktik pengawasan berlebihan terhadap kegiatan diskusi dan kebebasan berekspresi.
”Kami memandang tindakan ini sebagai bentuk intimidasi yang tidak seharusnya terjadi di era pascareformasi, ketika kebebasan berpikir, berdiskusi, dan berbagi ekspresi seharusnya dilindungi oleh negara,” tulis tiga lembaga tersebut.
”Praktik ini tidak hanya mencederai kebebasan berekspresi, tetapi juga menciptakan rasa takut dan ketidakamanan psikologis bagi penyelenggara dan peserta diskusi. Intimidasi semacam ini berbahaya karena menormalisasi gagasan bahwa kegiatan berpikir kritis, membaca, dan berdiskusi harus berada di bawah pengawasan aparat negara.”
Jika praktik ini dibiarkan, menurut Konde.co, Marjin Kiri, Trend Asia, akan tercipta preseden berbahaya yang membuat setiap diskusi, bedah buku, atau forum-forum sipil lainnya dianggap wajib meminta izin kepolisian, yang bertentangan dengan prinsip negara demokratis dan jaminan hak asasi manusia.




