Darilaut – Ranjau, sisa-sisa bahan peledak perang, dan alat peledak rakitan terus menyebabkan kematian dan cedera, terutama dalam situasi konflik bersenjata.
Rata-rata, satu orang tewas atau terluka oleh alat peledak semacam itu setiap jam. Banyak anak-anak termasuk di antara para korban.
Penggunaan alat peledak rakitan telah meluas, meneror warga sipil dan mengancam para pelaku kemanusiaan serta misi dan personel Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Ranjau, bahan peledak dan rakitan aktif di 57 negara dan wilayah. Terus membunuh dan melukai ribuan orang.
Senjata-senjata ini tidak pandang bulu, tetap mematikan selama beberapa dekade setelah konflik, dan menghambat komunitas yang berupaya mencapai perdamaian berkelanjutan.
Menemukan dan membersihkan ranjau bukan hal yang mudah. Ahli di Layanan Aksi Ranjau PBB (UNMAS) Paul Heslop mengatakan membersihkan ranjau darat itu sulit, apalagi membersihkan ranjau laut, bahkan lebih sulit.
Tanggal 4 April diperingati sebagai Hari Kesadaran Ranjau Internasional (International Day for Mine Awareness) setiap tahunnya.
Pada tahun 2026, International Day for Mine Awareness diperingati dengan tema “Investasikan dalam Perdamaian; Investasikan dalam Aksi Ranjau.”
Tema ini menyoroti pentingnya lahan yang dibersihkan dari ancaman bahan peledak dan masyarakat yang hidup tanpa rasa takut terhadap senjata-senjata yang tidak pandang bulu ini agar perdamaian dapat berkembang.




