Darilaut – Teluk Jakarta termasuk salah satu perairan dengan tingkat eutrofikasi yang sangat tinggi. Kondisi ini dipicu oleh masukan nutrien dari limbah domestik dan industri.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Oseanologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Afdal, menyoroti kondisi eutrofikasi di Teluk Jakarta yang semakin kompleks akibat tekanan aktivitas manusia dan perubahan lingkungan global.
“Teluk Jakarta termasuk perairan dengan tingkat eutrofikasi yang sangat tinggi secara global, yang dipicu oleh masukan nutrien dari limbah domestik, industri, serta aliran sungai dari wilayah sekitarnya,” kata Afdal dalam kegiatan IMBF Webinar Series 2026 yang digelar BRIN pada Kamis (16/4).
Afdal membawakan materi berjudul “Development of a Diagnostic System for Eutrophication in Jakarta Bay to Improve Resilience to Global Change”.
Akumulasi nutrien tersebut memicu peningkatan produktivitas fitoplankton secara berlebihan.
Fenomena algal bloom atau ledakan populasi alga tercatat berulang, antara lain pada tahun 2004, 2009, 2011, dan 2015, yang menunjukkan bahwa permasalahan eutrofikasi di Teluk Jakarta bersifat kronis dan berulang.
Afdal menjelaskan bahwa dampak yang ditimbulkan tidak hanya berupa peningkatan konsentrasi klorofil-a, tetapi juga penurunan kualitas lingkungan perairan yang signifikan.




