“Salah satu indikatornya adalah terjadinya hipoksia di lapisan dasar perairan, yang dapat memicu kematian massal organisme laut dan mengganggu keseimbangan ekosistem,” ujarnya.
Berdasarkan data empiris, beberapa wilayah pesisir Teluk Jakarta memiliki konsentrasi klorofil-a di atas 30 µg/L, yang mengindikasikan potensi algal bloom tinggi.
Selain itu, kata Afdal, kadar oksigen terlarut di lapisan dasar tercatat berada di bawah 2 mg/L pada area yang cukup luas, terutama di bagian tengah dan timur teluk, yang menunjukkan kondisi hipoksia serius.
Afdal mengatakan kondisi ini diperparah oleh tingginya kandungan bahan organik di kolom air yang meningkatkan konsumsi oksigen melalui proses dekomposisi. Kombinasi faktor-faktor tersebut menunjukkan bahwa Teluk Jakarta berada dalam kondisi eutrofik yang parah dan memerlukan penanganan serius.
Afdal menekankan pentingnya pengembangan sistem pemantauan berbasis buoy dengan teknologi sensor dan Internet of Things (IoT) untuk mendukung pengamatan kualitas perairan secara real-time.
Integrasi data in situ, satelit, dan pemodelan diharapkan mampu menghasilkan sistem diagnostik yang memberikan peringatan dini serta mendukung pengelolaan perairan yang lebih adaptif terhadap perubahan lingkungan global.
Eutrofikasi dapat mengganggu keseimbangan ekosistem perairan. Kondisi ini hasil interaksi antara dinamika nutrien di perairan dan aktivitas manusia di daratan yang terus meningkat.




