Darilaut – Pelecehan terhadap jurnalis perempuan menjadi ‘lebih mudah dan lebih merusak’ karena di era kecerdasan buatan (AI).
Studi UN Women yang diterbitkan menjelang Hari Kebebasan Pers Sedunia (World Press Freedom Day) yang diperingati setiap tahun pada tanggal 3 Mei, menyebutkan kekerasan daring (dalam jaringan) atau online terhadap jurnalis perempuan telah meningkat dua kali lipat sejak tahun 2020, dengan dampak serius pada kesehatan dan kesejahteraan mereka.
Melansir UN News, laporan oleh UN Women dan para mitranya menyoroti bagaimana kekerasan daring yang menargetkan perempuan dalam kehidupan publik semakin canggih secara teknologi, invasif, dan merusak di era AI.
“AI membuat pelecehan lebih mudah dan lebih merusak, dan ini memicu erosi hak-hak yang telah susah payah diraih dalam konteks yang ditandai dengan kemunduran demokrasi dan misogini yang terhubung melalui jaringan,” kata Kalliopi Mingerou, yang memimpin tim lembaga tersebut yang bekerja untuk mengakhiri kekerasan terhadap perempuan.
Dampak, manifestasi, dan penanganan kekerasan daring di era AI didasarkan pada survei tahun 2025, dengan 641 peserta dari 119 negara yang memberikan tanggapan.
Temuan tersebut mengungkap bahwa 12 persen pembela hak asasi manusia perempuan, aktivis, jurnalis, dan pekerja media lainnya telah mengalami penyebaran gambar pribadi tanpa persetujuan, termasuk konten intim atau seksual.




