Darilaut – Pengelolaan biosfer sebagai sistem kolaboratif antara manusia, lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan.
Pengelolaan cagar biosfer di Indonesia kini mulai diarahkan lebih dekat dengan kebutuhan pembangunan daerah.
Tidak hanya menjaga kawasan konservasi, pendekatan biosfer juga didorong mampu memperkuat ekonomi masyarakat, tata kelola lingkungan, hingga ketahanan sosial berbasis jasa ekosistem.
Arah tersebut menjadi bagian dari implementasi Hangzhou Strategic Action Plan (HSAP) 2026–2035.
Direktur Eksekutif Komite Nasional Man and the Biosphere (MAB) UNESCO Indonesia sekaligus Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Virni Budi Arifanti, mengatakan, pengelolaan biosfer membutuhkan keterlibatan aktif pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, hingga lembaga pengelola kawasan agar fungsi konservasi dan pembangunan dapat berjalan beriringan.
“Pengelolaan cagar biosfer saat ini tidak lagi bertumpu pada perlindungan kawasan semata, tetapi pada kemampuan seluruh zona biosfer untuk dikelola secara terpadu,” kata Virni, dalam sesi diskusi “Penguatan Pengelolaan Cagar Biosfer Berbasis Jasa Ekosistem: Konsolidasi Nasional Pengelolaan 21 Cagar Biosfer Indonesia Menuju Era Hangzhou Strategic Action Plan 2026–2035” di Gedung Widya Graha BRIN, Jakarta Selatan, Kamis (21/5).




