Darilaut – Hujan meteor Perseid terekam All Sky Camera (ASC) di Observatorium Nasional Timau, Nusa Tenggara Timur.
Hujan meteor tersebut mencapai puncaknya pada malam 12 Agustus hingga dini hari 13 Agustus 2026
Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, menjelaskan hujan meteor Perseid terjadi ketika Bumi bertemu dengan gugusan debu yang ditinggalkan Komet Swift-Tuttle.
Hujan meteor Perseid terjadi karena pertemuan Bumi dengan gugusan debu Komet Swift-Tuttle. Akibatnya, debu-debu yang masuk atmosfer terbakar pada ketinggian sekitar 70–90 kilometer. Debu yang terbakar itulah yang tampak sebagai meteor, kata Thomas.
Ketika Bumi melintasi kawasan yang dipenuhi partikel peninggalan komet tersebut, banyak partikel memasuki atmosfer dalam periode yang relatif bersamaan. Fenomena kemunculan meteor dalam jumlah banyak itulah yang kemudian dikenal sebagai hujan meteor.
Meski disebut “hujan meteor”, fenomena tersebut bukan berarti benda langit turun ke permukaan Bumi seperti hujan. Cahaya yang terlihat di langit berasal dari partikel yang memasuki atmosfer dengan kecepatan tinggi dan kemudian berpijar.
Thomas mengatakan meteor-meteor Perseid seolah-olah berasal dari satu kawasan langit di sekitar rasi Perseus. Titik pertemuan Bumi dengan gugusan debu tersebut tampak pada arah rasi Perseus yang berada di langit timur laut.



