Rata-rata, setiap orang membuang 79 kilogram makanan setiap tahunnya. Jumlah ini setara dengan 1,3 kali makan setiap hari bagi semua orang di dunia yang terkena dampak kelaparan.
Permasalahan ini tidak hanya terjadi di negara-negara maju saja. Menyusul peningkatan cakupan data yang hampir dua kali lipat sejak Laporan Indeks Limbah Makanan tahun 2021 diterbitkan, terjadi peningkatan konvergensi antara kelompok kaya dan miskin.
Negara-negara berpendapatan tinggi, berpendapatan menengah ke atas, dan berpendapatan menengah ke bawah memiliki perbedaan rata-rata tingkat sampah makanan rumah tangga hanya sebesar tujuh kilogram per kapita per tahun.
Kesenjangan yang lebih besar terjadi pada variasi antara populasi perkotaan dan pedesaan.
Di negara-negara berpendapatan menengah, misalnya, daerah pedesaan umumnya mempunyai jumlah sampah yang lebih sedikit.
Salah satu penjelasan yang mungkin adalah daur ulang sisa makanan untuk hewan peliharaan, pakan ternak, dan pengomposan rumah di pedesaan.
Laporan tersebut merekomendasikan untuk memfokuskan upaya pada penguatan pengurangan sampah makanan dan pembuatan kompos di perkotaan.
Ada korelasi langsung antara suhu rata-rata dan tingkat limbah makanan, demikian temuan laporan tersebut.
Negara-negara dengan suhu panas tampaknya memiliki lebih banyak limbah makanan per kapita di rumah tangganya. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh peningkatan konsumsi makanan segar yang mengandung lebih sedikit bagian makanan yang dapat dimakan dan kurangnya solusi pendinginan dan pengawetan yang kuat.




