Menurut Wakil Direktur Eksekutif UNEP, Elizabeth Mrema, baik Majelis Lingkungan Hidup Perserikatan Bangsa-Bangsa maupun Forum Regional ini merupakan contoh penting multilateralisme dan kepemimpinan lingkungan.
”Respons kolektif kita harus berorientasi pada solusi, nyata, dan berlandaskan sains,” ujar Elizabeth.
Dalam persiapan UNEA-7, lima rancangan resolusi diajukan oleh negara-negara anggota. Rancangan ini mencakup proposal untuk mempercepat strategi ekonomi sirkular (Republik Korea), mempromosikan ketahanan terumbu karang (Fiji), meningkatkan partisipasi pemuda dalam aksi iklim (Sri Lanka), memperkuat sinergi dalam implementasi MEA (Jepang), dan mengelola kebakaran hutan (India).
Tuvalu mengumumkan niatnya untuk mengajukan resolusi tentang perpindahan akibat iklim dan kenaikan permukaan laut.
Menjelang Forum tersebut, Forum Kelompok Utama dan Pemangku Kepentingan Asia-Pasifik diselenggarakan, di mana Lenora Qereqeretabua, Asisten Menteri Luar Negeri dan Wakil Ketua Parlemen Fiji, menyampaikan pesan yang kuat:
Forum diakhiri dengan seruan bersama untuk tindakan kolektif yang mendesak guna mengatasi krisis tiga planet di kawasan ini, yaitu perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi.
Dengan fokus pada pentingnya kerja sama global, para menteri dan pejabat senior berkomitmen untuk mempercepat implementasi resolusi UNEA, meningkatkan ambisi dalam rencana iklim dan adaptasi, serta memperkuat kerja sama pada prioritas-prioritas utama seperti perlindungan laut, polusi plastik, kualitas udara, dan pemanfaatan sumber daya berkelanjutan.




