40% Obat yang Digunakan Secara Klinis Berasal Dari Alam

Spons laut. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Produk alami dari tumbuhan, organisme darat dan laut, serta mikroorganisme darat dan laut merupakan sumber kandidat obat. Lebih dari 40% obat yang digunakan secara klinis berasal dari alam.

Potensi bahan alam sebagai bahan baku produk kesehatan perlu dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung program pembangunan kesehatan.

Untuk itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan sejumlah kegiatan riset untuk menggali potensi tersebut menjadi obat dan obat tradisional.

Untuk melaksanakan penelitian dan pengembangan tanaman obat dan obat tradisional, peneliti tidaklah dapat melakukannya sendiri, diperlukan kolaborasi antara peneliti dengan pihak industri.

“Peneliti obat dan obat tradisional sebaiknya tidak lagi berpikir dari hilir ke hulu. Peneliti harus berpikir untuk membuat sesuatu dan bekerja sama dengan industri kesehatan atau rumah sakit sebagai pengguna hasil riset,” kata Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko, Kamis (24/3) dalam kunjungan ke Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Tawangmangu.

Satuan kerja BRIN di Tawangmangu ini sebelumnya merupakan unit kerja di bawah Kementerian Kesehatan. Kini perisetnya telah bergabung dalam Organisasi Riset Kesehatan-BRIN.

Kegiatan Litbang di B2P2TOOT selama ini memprioritaskan pada saintifikasi Jamu, dari hulu ke hilir.

Kepala B2P2TOOT, Akhmad Saikhu, mengatakan, B2P2TOOT memiliki banyak potensi yang perlu dikembangkan. Harapan kami kolaborasi dan koordinasi di bidang litbang kesehatan dapat diwujudkan ke depannya.

Peneliti bidang kepakaran obat dan obat tradisional, Yuli Widiyastuti, mengatakan, apa yang sudah dilaksanakan oleh unit kerja ini sebagai bestline untuk meningkatkan kinerja riset selanjutnya di komunitas BRIN.

Tidak hanya sebagai bestline di BRIN nantinya, menurut Yuli, sebagai bagian dari riset kesehatan mereka juga memiliki tujuan utama yakni output yang diperoleh harus memiliki implikasi kepada pembangunan kesehatan.

“Untuk itu, dibutuhkan dukungan kolaborasi yang sinergis termasuk dengan Kementerian Kesehatan RI secara umum,” ujarnya.

Sejak tahun 2010, B2P2TOOT memprioritaskan pada Saintifikasi JAMU, dari hulu ke hilir, mulai dari riset etnofarmatologi tumbuhan obat dan JAMU. Salah satu hasil penelitian B2P2TOOT adalah pengembangan Artemisia sebagai bahan obat anti malaria.

Exit mobile version