Berdasarkan data investigasi periode 2003 hingga Agustus 2026, tercatat 46 kecelakaan kapal Ro-Ro di perairan Indonesia, dengan titik awal kebakaran paling sering bermula dari muatan truk dan kendaraan di geladak.
KNKT merilis catatan pembelajaran dari investigasi keselamatan kapal penyeberangan Ro-Ro penumpang.
Catatan investigasi khusus kebakaran kapal Ro-Ro tahun 2014 hingga 2026 merinci 19 kejadian di berbagai perairan, mulai dari KMP Gelis Rauh, KMP Caitlyn, KM Mutiara Persada III, KM Mutiara Sentosa I, KM Dharma Kencana II, Labitra Adinda, Paray, Satya Kencana IX, Gerbang Samudra I, BSP I, Santika Nusantara, Bahari Indonesia, Mutiara Timur I, Royce I, Mutiara Berkah 1, Niki Sejahtera, Kirana I, hingga insiden KM Mutiara Sentosa 2 di Laut Jawa dan KMP Putri Yasmin di Selat Lombok pada Agustus 2026.
Dari rangkaian kejadian itu, sumber api didominasi oleh muatan di dalam bak truk serta gangguan kelistrikan kendaraan dan kapal.
Investigasi KNKT menemukan kelemahan mendasar dalam pengangkutan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) pada angkutan barang. Muatan B3 kerap tidak dilaporkan oleh pihak pengirim, rincian manifes barang tidak memuat data secara detail, dan tidak ada pemeriksaan fisik setelah barang dikemas.
Kondisi tersebut diperumit oleh prosedur administrasi yang kompleks serta pengemasan barang yang belum tentu memenuhi standar keselamatan pengangkutan laut.



