Percabangan yang dimiliki bambu juga cukup menarik seperti pada jenis Gigantochloa aya yang memiliki satu cabang utama besar kemudian di sekitarnya dikelilingi beberapa cabang yang lebih kecil.
Ada juga jenis lain yang memiliki cabang utama dorman seperti pada Dinochloa sepang, yang ketika ujung buluh utamanya itu dipotong maka percabangan yang awalnya dorman menjadi tumbuh sebesar buluh utama.
Gede mengatakan berbagai macam bentuk daun pada bambu bisa membantu dalam proses identifikasi, seperti daun yang melanset merupakan bentuk daun dari Gigantochloa apus, daun yang melanset-melonjong merupakan daun dari Schizostachyum brachycladum.
Kemudian daun dengan bentuk memita bisa dicirikan sebagai daun dari bambu Bambusa glaucophylla dan daun yang membundar telur merupakan bentuk daun yang berasal dari bambu Shibataea kumasaca.
Sementara itu, pada perbungaannya, menurut Gede, perbungaan pada bambu di Indonesia sangatlah jarang terjadi, ada yang rajin berbunga seperti pada Schizostachyum brachycladum, tetapi ada juga yang sangat susah berbunga.
Bahkan ada juga yang berbunga masih tetap hidup ada juga yang setelah berbunga kemudian mati sehingga karakternya tidak bisa ditebak. Bentuk bunga pada bambu berbentuk bulir seperti bunga padi.




