Bagi sebagian orang, momen seperti ini lebih dari sekadar tausiah. Suasana ini menjadi kesempatan untuk melihat realitas yang sering kabur karena informasi yang salah dan tidak utuh.
Rektor UNG, Prof. Dr. Eduart Wolok, menjelaskan bahwa kegiatan ”UNG Bersholawat” bukan hanya bagian dari syiar keagamaan, tetapi juga bentuk literasi nilai bagi generasi muda.
“Kampus bukan sekadar ruang akademik, tetapi juga tempat membangun karakter yang beriman, berakhlak, dan mencintai Rasulullah SAW,” ujar Rektor UNG.
”Melalui kegiatan ini, kami ingin melahirkan generasi cendekia yang tidak hanya cerdas intelektual, tapi juga cerdas digital.”
Menurut Rektor, di tengah derasnya arus informasi yang serba cepat, mahasiswa perlu memiliki kemampuan menyaring mana yang fakta dan mana yang manipulasi.
“Nilai tabayun atau verifikasi yang diajarkan dalam Islam sangat relevan untuk era digital sekarang. Jangan sampai kita ikut menyebar hoaks yang justru menimbulkan perpecahan,” kata Prof. Eduart yang juga Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI).
Makna Spiritual dan Sosial
Di antara ribuan jamaah yang hadir, terdapat wajah-wajah muda yang menjadi representasi generasi digital. Salah satunya Iska, mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial UNG.
Dengan mata berbinar, Iska menceritakan pengalamannya mengikuti tausiah UAS secara langsung.




