CCTV melaporkan pada Jumat pagi bahwa lokasi bendungan alami tersebut berjarak lebih dari 10 kilometer (6 mil) dari Pelabuhan Gyirong—titik perlintasan perbatasan dengan Nepal yang terdampak parah—pihaknya menyatakan bahwa risiko banjir tetap tinggi. CCTV menyebutkan bahwa danau tersebut berada pada ketinggian 2.950 meter (9.680 kaki), sekitar 1.000 meter (3.280 kaki) di atas Pelabuhan Gyirong.
Runtuhan Gletser
Awalnya, melansir Al Jazeera, para pejabat menduga bahwa gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,4 mungkin telah memicu banjir di bagian hilir pada Rabu pagi.
Namun, sejumlah ahli dan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) telah mengonfirmasi bahwa “peristiwa seismik” tersebut merupakan akibat dari “runtuhan gletser dan aliran debris yang menyebabkan dampak dahsyat di hilir”—bukan sebaliknya.
Runtuhan gletser adalah terlepasnya massa es gletser yang besar dari dasar tempatnya berada—yang terkadang melibatkan jutaan meter kubik es, batu, dan air—dan dapat berubah menjadi longsoran es atau aliran debris yang bergerak cepat. Istilah “runtuhan gletser” (glacial collapse) bukanlah istilah ilmiah yang didefinisikan secara formal dalam glasiologi, namun istilah ini umum digunakan untuk menggambarkan peristiwa tersebut.
Otoritas Nasional Pengurangan dan Manajemen Risiko Bencana Nepal menyatakan bahwa “banjir yang melibatkan gletser” tersebut terjadi di Sungai Lhende Khola akibat “longsoran es dan batu di sisi Nepal”, menurut Prakash Pokhrel, seorang ahli geologi di lembaga tersebut.




