Eddy menjelaskan evolusi pergerakan semu matahari terhadap bumi ini akan diikuti dengan evolusi perubahan suhu di permukaan bumi. Polanya mirip, namun ada jeda waktu atau lag-time.
Penurunan suhu yang terjadi diakibatkan oleh bertiupnya udara dingin dari wilayah Australia. Namun, udara dingin yang bertiup dari wilayah Kutub Selatan ini akibat fenomena aphelion yang menyebabkan wilayah bumi bagian selatan tidak mendapatkan panas matahari.
Karena itu, para periset tidak hanya berfokus pada pergerakan massa uap air kering yang berasal dari Benua Australia, menuju belahan bumi utara yang melintasi kawasan timur Indonesia. Namun juga diikuti dengan penelitian sebab lainnya.
“Jadi kalau ada satu dua kawasan yang mengikuti pola itu, dugaan saya mekanismenya masih perlu dikaji dan diteliti. Apa ada pengaruh posisi matahari terjauh dari bumi yang menyebabkan suhu menjadi drop,” ujarnya.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan sejumlah wilayah Indonesia saat ini menghadapi fenomena udara dingin. Menurut BMKG fenomena suhu dingin tersebut menjelang puncak musim kemarau di bulan Juli-Agustus, terkadang sampai September.
Hal ini disebabkan oleh Angin Monsun Australia yang bertiup menuju Benua Asia melewati Wilayah Indonesia dan perairan Samudera Hindia yang memiliki suhu permukaan laut juga relatif lebih rendah (dingin). Angin Monsun Australia ini bersifat kering dan sedikit membawa uap air, apalagi pada malam hari di saat suhu mencapai titik minimumnya.




