Setelah mendarat, interaksi dengan medan Luzon yang kasar akan menguranginya menjadi 100 km per jam (55 knot).
Selanjutnya diperkirakan akan meningkat kembali menjadi 110 km per jam (60 knot) setelah keluar ke perairan hangat Laut Cina Selatan dan ke Selat Luzon.
Sistem ini menurut JTWC diperkirakan memberikan dampak pada gelombang laut dengan tinggi maksimum 3 meter (10 feet).
Sementara Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan Siklon Tropis Nalgae yang berada di Laut Filipina membentuk daerah peningkatan kecepatan angin (low level jet) hingga lebih dari 25 knot yang terpantau dari Laut China Selatan hingga Filipina bagian utara, serta dari Laut Sulawesi dan Filipina bagian utara hingga Laut Filipina.
Dalam pembaruan yang dikeluarkan Kamis pukul 12.35 WIB, menurut Deputi Bidang Meteorologi, sistem ini membentuk daerah perlambatan kecepatan angin (konvergensi) di Laut China Selatan, dari utara Kalimantan utara hingga Laut Sulu, dari Laut Sulawesi hingga Filipina bagian selatan, dan di Samudra Pasifik utara Maluku Utara.
Kemudian daerah pertemuan angin (konfluensi) di Laut China Selatan, utara Kalimantan Utara dan Laut Sulu, Laut Sulawesi, Laut Filipina, dan Samudra Pasifik utara Papua.
“Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan, kecepatan angin, dan ketinggian gelombang laut di sekitar wilayah siklon tropis dan di sepanjang daerah low level jet, konvergensi/ konfluensi tersebut,” tulis Deputi Bidang Meteorologi.





Komentar tentang post