Terkait dengan bambu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyelenggarakan diskusi pojok iklim secara virtual dengan mengangkat tema “Bambu Penggerak Ekonomi dan Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup”, pada Rabu (10/3) pekan lalu.
Diskusi dipandu oleh Project Coordinator Kanoppi-2 Bamboo Agroforestry kerjasama ICRAF-ACIAR, Desy Ekawati. Kegiatan dihadiri kementerian/lembaga, organisasi non-pemerintah, perguruan tinggi, sektor privat dan individu.
Dalam diskusi, Wakil Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur NTT), Josef Nae Soi, mengatakan kebijakan dan program Pemerintah Provinsi NTT dalam pengembangan bambu untuk penghijauan dan kemajuan ekonomi masyarakat.
Menurut Josef dari sudut budaya, bambu berhubungan dengan tradisi, ritual atau budaya masyarakat. Bambu menjadi lambang seorang yang bekerja keras.
Josef mengatakan dengan contoh seorang pemuda kalau ingin melamar seorang gadis, harus dapat memotong bambu kering di tengah bambu basah. Lebih lanjut, dari seni kebudayaan, bambu juga bisa dijadikan alat musik.
Dari sudut ekologis, bambu dapat meningkatkan volume air bawah tanah, konservasi lahan dan perbaikan lingkungan. Dari sudut ekonomis bambu bisa dijadikan sebagai bahan bangunan, transportasi, kuliner, alat musik, alat-alat rumah tangga, pengobatan.





Komentar tentang post