Seiring berjalannya waktu, pembangunan jalan, tempat usaha, hotel, dan proyek pembangkit listrik tenaga air semakin terkonsentrasi di lembah sungai, tempat konstruksi lebih mudah dilakukan dan peluang ekonomi lebih besar. Menurut Dr. Chapagain, sumber air di beberapa permukiman dataran tinggi juga mulai mengering, sehingga mendorong warga untuk pindah ke wilayah yang lebih rendah.
Hal ini menciptakan situasi pertemuan yang berbahaya: saat pemanasan global mengubah kondisi pegunungan di atas, semakin banyak orang dan infrastruktur yang berkumpul di jalur tempat air dan material longsoran mengalir turun.
Lembah yang porak-poranda akibat banjir hari Rabu itu menjadi gambaran nyata dari benturan tersebut. Koridor Bhote Koshi-Trishuli merupakan jalur perdagangan utama menuju Kathmandu dan dipenuhi oleh pembangkit listrik tenaga air, jembatan, jalan raya, hotel, serta permukiman. Banjir tersebut merusak fasilitas kelistrikan serta memutus akses transportasi dan komunikasi di seluruh wilayah itu.
Bahaya tersebut sebenarnya sudah terlihat jelas. Tahun lalu, peristiwa banjir akibat jebolnya danau glasial pernah melanda sistem sungai yang sama, menewaskan sembilan orang dan menyebabkan 24 orang lainnya hilang.
Setiap Menit Sangat Berarti
Bagi Dr. Chapagain, bencana hari Rabu itu juga menyingkapkan kelemahan krusial: betapa minimnya peringatan yang diterima masyarakat sebelum bencana yang bermula jauh di pegunungan mencapai tempat tinggal mereka.




