Ia menyebutkan bahwa pihak berwenang Nepal baru mengetahui adanya banjir saat air sudah mendekati perbatasan. Peringatan kemudian disebarluaskan ke wilayah hilir melalui pesan teks, media sosial, panggilan telepon, dan bunyi alarm.
Menurut Dr. Chapagain, upaya mengurangi bahaya harus dimulai dari wilayah hulu: pemantauan berkelanjutan terhadap gletser dan lereng yang tidak stabil, pengamatan satelit, penggunaan alat pengukur cuaca dan debit sungai, serta sistem peringatan dini yang mampu memberikan cukup waktu bagi warga untuk mengungsi.
Hal ini mengingat sungai dan gletser melintasi batas negara, Cina, Nepal, dan negara-negara yang berada lebih jauh di hilir juga harus saling bertukar data dengan cepat.
Ada masalah yang lebih mendasar. Dr. Chapagain mengatakan, meskipun emisi gas rumah kaca turun drastis, gletser akan terus kehilangan massanya selama beberapa dekade akibat pemanasan yang sudah telanjur terjadi dalam sistem iklim. Namun, seberapa besar massa yang akhirnya hilang masih berada dalam kendali umat manusia. Namun, apa yang terjadi dalam waktu dekat justru jauh berbeda.
Menurut pandangannya, hal itu menjadikan adaptasi bukan lagi sekadar persiapan untuk masa depan yang masih jauh.
Bagi masyarakat di kaki pegunungan Himalaya, masa itu telah tiba, pada hari Rabu.




