Tetapi juga skala industri sehingga dimungkinkan penggunaan air tanah.
Akibatnya banyak permasalahan, cukup kompleks mulai dari kenaikan muka laut. Kemudian material tanahnya yang alluvial umurnya masih muda, juga terkait dengan penggunaan lahan.
Dalam catatan penurunan muka tanah (land subsidence) di Semarang sekitar 19 cm per tahun. Untuk rob 40-60 cm dan pernah mencapai 1 m pada tahun 2013.
Padahal, kata Bachtiar, stasiun pasang surut sudah ada, ada tanggul laut, tapi yang kemarin fenomena pasang cukup tinggi dibandingkan dengan biasanya. Mungkin karena masih dalam kondisi cuaca ekstrem, bahkan ini diperkirakan sampai bulan Juni untuk puncak pasang. Karena itu perlu perhatian khusus seperti apa upaya mitigasi.
Bachtiar mengatakan secara umum pemerintah sudah paham apa yang terjadi di Semarang dan wilayah lainnya di pantai utara Jawa yang memang sudah sejak lama dikenal sebagai kawasan rawan terkena rob.
Bahkan beberapa kegiatan mitigasi sudah dilakukan, misalnya kegiatan pemerintah pusat bersama Pemkab Pekalongan dengan membuat sumur pompa, pembangunan tanggul dan lain-lain.
Ke depan, Bachtiar berharap jika terjadi penurunan muka tanah, maka yang perlu mendapat perhatian adalah terkait tata ruang.
Menurut Bachtiar perlu diatur untuk penggunaan lahannya, khususnya yang berada di wilayah pesisir agar tidak terlalu masif.





Komentar tentang post