“Gempa yang terjadi di Turki beberapa waktu lalu menjadi peringatan buat semua negara-negara yang rawan bahwa bencana seperti itu bisa terjadi kapan saja dengan dampak yang lebih buruk jika tidak segera dilakukan upaya mitigasi secara komprehensif,” ujarnya.
Ketua Ikatan Ahli Bencana Indonesia yang juga ahli dari ITB, Harkunti, mengatakan negara-negara ASEAN melalui AEIC diharapkan dapat mengimplementasikan dua tujuan dari UN DECADE OCEAN SCIENCE, yaitu dimana pada Tahun 2030, 100% komunitas yang berada di wilayah berisiko tsunami harus memiliki kapasitas kesiapsiagaan dan resiliensi terhadap tsunami sekaligus memastikan peringatan dini yang “actionable” sehingga respon dini juga dapat segera dilakukan.
“Jadi, baik Early Warning dan Early Action dapat diimplentasikan dengan baik ” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, perwakilan Filipina Ishmael Narag mengatakan, bahwa seluruh member AEIC harus bekerja sama dan berkolaborasi untuk menghadapi tantangan bumi kekinian.
Tidak hanya terkait pada penguatan sistem pendukung monitorin AEIC, tetapi juga kerja sama saintifik, melakukan riset bersama, agar penguatan kapasitas keilmuan dari negara-negara anggota AEIC akan semakin meningkat, kata Ishmael Narag.





Komentar tentang post