Sementara itu, kata Saputri, teknologi Fouling Release memanfaatkan polimer berenergi permukaan rendah untuk menciptakan permukaan superhidrofobik.
Sehingga ”organisme laut penyebab biofouling tidak dapat menempel kuat dan dapat terlepas secara alami saat kapal bergerak dinamis,” ujarnya.
Riset ini dilandasi oleh kajian kritis terhadap fenomena biofouling di berbagai wilayah perairan Indonesia, mencakup identifikasi organisme dominan, laju kolonisasi, serta faktor-faktor lingkungan seperti suhu, salinitas, dan kandungan nutrien.
Temuan-temuan tersebut menjadi landasan ilmiah dalam perancangan formulasi pelapis yang adaptif terhadap kondisi oseanografi laut tropis Indonesia.
Kepala PRTH BRIN Teguh Muttaqie, mengatakan, kolaborasi ini merupakan langkah penting dalam pengembangan teknologi pelapisan nasional.
“Kami ingin menghadirkan produk pelapis kapal yang efektif, efisien, dan aman bagi lingkungan. Ini wujud nyata sinergi sains dan industri untuk masa depan maritim yang berkelanjutan,” kata Teguh.
PT PAL Indonesia, sebagai mitra industri, menyediakan fasilitas galangan dan dukungan teknis untuk pelaksanaan uji performa pelapis.
PT PAL Indonesia menyambut baik kerja sama ini dan menilai bahwa keterlibatan langsung industri akan memperkuat validasi teknologi di lingkungan operasional nyata.




