Sebagai alternatif, BRIN mengembangkan konsep kapal pengolah sampah yang mampu mengolah sampah langsung di lokasi tanpa membutuhkan lahan tambahan di daratan. Teknologi ini dinilai lebih fleksibel dan adaptif terhadap kondisi wilayah kepulauan, serta dapat mengurangi ketergantungan pada sistem pengangkutan sampah ke daratan utama.
Daud mengatakan kapal ini tidak membutuhkan lahan darat karena proses pengolahan dilakukan di atas air. Selain itu, memiliki fleksibilitas dalam menghadapi kondisi cuaca dan dapat berpindah lokasi. Residu yang dihasilkan juga dapat dimanfaatkan sehingga memiliki nilai ekonomis.
Hasil penelitian menunjukkan inovasi ini tidak hanya memberikan manfaat lingkungan, tetapi juga berpotensi menciptakan nilai ekonomi. Pengolahan sampah secara lokal dapat menekan biaya logistik, membuka peluang kerja baru bagi masyarakat, serta mendorong terbentuknya ekonomi sirkular berbasis pengelolaan sampah.
Dari sisi sosial, tingkat penerimaan masyarakat terhadap inovasi ini tergolong tinggi, dengan beberapa prasyarat penting. Di antaranya, perlunya edukasi yang komprehensif sebelum implementasi, jaminan bahwa operasional teknologi tidak mengganggu aktivitas masyarakat, serta integrasi dengan sistem pengelolaan sampah yang sudah berjalan.




