Metode ini memungkinkan ilmuwan mendeteksi keberadaan paus dan megafauna lainnya hanya melalui residu genetik yang tertinggal di air, tanpa perlu kontak fisik yang mengganggu hewan tersebut.
“Kira-kira kalau bisa cerita cepat, kita, tuh, kayak lagi berburu paus tanpa membunuh paus, whaling tanpa harpoon,” kata Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Andhika Prima Prasetyo.

Harapannya, kata Andhika, kita bisa mempelajari distribusinya, tidak hanya horizontal tapi juga secara vertikal.
Direktur Pengelola Armada Kapal Riset BRIN, Nugroho Dwi Hananto, mengatakan, leg kedua berfokus pada biodiversitas (keanekaragaman hayati), oseanografi, dan juga pengamatan laut, serta fish aggregating device (FAD) atau yang lebih kita kenal rumpon.




