Hingga April ini, produksi dan nilai perikanan di SKPT Sebatik masih belum normal. Pada Selasa (21/4) terdapat produksi sebanyak 455 kilogram senilai Rp 10,6 juta.
Di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, nelayan kecil penangkap rajungan hampir 90 persen sudah tidak melaut. Harga rajungan turun drastis dari Rp 55.000 per kilo gram menjadi Rp 30.000 per kilo gram. Turunnya harga rajungan salah satu penyebab karena sejumlah pabrik pengolahan rajungan di Tegal ditutup.

Di Bitung, Sulawesi Utara, produksi dan nilai perikanan cenderung stabil, seperti tahun-tahun sebelumnya. Pada Kamis (9/4) produksi perikanan 132 ton dengan nilai Rp 3 miliar, Sabtu (11/4) produksi perikanan 64 ton dengan nilai 1,2 miliar, dan Selasa (14/4) produksi 228 ton dengan nilai Rp 4,6 miliar. Namun, di Bitung, harga ikan dan daya beli masyarakat turun.
Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) M Zulficar Mochtar mengatakan saat ini banyak ikan hasil tangkapan nelayan yang dibuang begitu saja dan tidak terserap di pasaran. Akibatnya, nelayan mengalami kerugian karena harga ikan rendah.
Menurut Zulficar, di tengah wabah Covid-19, nelayan tetap melaut untuk menangkap ikan. Banyak hasil tangkapan ikan, tetapi pasar ikan atau unit pengolahan tidak beroperasi. Begitupula cold storage over capacity.





Komentar tentang post