Topeng seolah memberi kebebasan, membiarkan perempuan keluar dari identitas personalnya dan memasuki peran kolektif sebagai penjaga cerita budaya. Dalam ruang itu, perempuan tidak lagi dituntut “tampil cantik” dalam arti sempit, tetapi “bermakna” dalam arti yang lebih luas.

Sebagai jurnalis yang datang dari Gorontalo, pengalaman menyaksikan IMF menghadirkan perasaan yang campur aduk: kagum, hangat, sekaligus reflektif. Solo memiliki tradisi topeng yang dirawat dan dirayakan dari tahun ke tahun.
Festival ini bukan sesuatu yang tiba-tiba ada, melainkan hasil dari konsistensi panjang, kepercayaan pada nilai budaya, dan keberanian untuk menempatkan tradisi di ruang publik modern. Topeng di Solo tidak diperlakukan sebagai benda museum, melainkan sebagai tubuh hidup yang terus bergerak mengikuti zaman.

Berbeda dengan Gorontalo, daerah saya berpijak, yang tidak memiliki tradisi topeng sebagai praktik budaya utama. Jika ada satu festival yang paling sering saya lihat dan rasakan gaungnya, maka Festival Karawo-lah jawabannya. Karawo, seni sulam khas Gorontalo, menjadi simbol identitas, kesabaran, dan ketelitian, yang sebagian besar diwariskan dan dijaga oleh perempuan.
Di sana, kecantikan hadir dalam bentuk benang-benang halus yang disulam perlahan, membutuhkan waktu, ketekunan, dan rasa. Jika perempuan Solo berbicara lewat gerak dan topeng, maka perempuan Gorontalo berbicara lewat kain dan sulaman.




