Jakarta – Mengingat potensi tsunami dapat terjadi sewaktu-waktu di wilayah pesisir Indonesia, dibutuhkan adanya sistem peringatan dini tsunami (Tsunami Early Warning System). Sistem ini dirancang untuk mendeteksi tsunami dan memberikan peringatan guna mencegah jatuhnya banyak korban jiwa.
Hal ini disampaikan Kapushidrosal Laksamana Muda TNI Dr Harjo Susmoro, selaku Ketua Umum Dewan Hidrografi Nasional (DHI) saat membuka seminar dengan tema “The Contribution of Aids to Navigation and Tsunami Early Warning System to Maritime Safety in Indonesia“ yang diwakili Koorsahli Pushidrosal.
Seminar ini kerjasama Dewan Hidrografi Nasional dengan PT Geotindo Mitra Kencana, di Kamis (29/8) pekan lalu.
Ketua Umum DHI mengatakan, wilayah Indonesia selain memiliki posisi yang berada pada posisi strategis pada silang dunia, secara geologi wilayah Indonesia berada pada pertemuan tiga lempeng dunia. Kondisi tersebut menjadikan wilayah Indonesia terdapat sebaran patahan aktif atau sesar aktif, yang sewaktu-waktu dapat memicu terjadinya gempa yang diantaranya disertai dengan geombang tsunami.
Nara sumber dalam seminar ini, Kolonel Laut (P) Dyan Primana Sobaruddin, MSc (Pushidros TNI Angkatan Laut) dengan judul “Hidrografi its More Than Just Nautical Chart”, Dr Daryono (Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG) tentang “Tsunami Early Warning System & Its Mitigation”.





Komentar tentang post