Selasa, April 21, 2026
Beri Dukungan
redaksi@darilaut.id
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Masuk
  • Daftar
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Home Berita

Dua Bahaya Sampah Antariksa

redaksi
1 September 2022
Kategori : Berita
0
Serpihan Roket yang Jatuh di Kalimantan Barat Milik China National Space Administration

Serpihan roket Long March 5B (CZ-5B) itu milik China National Space Administration (CNSA) jatuh di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. FOTO: LAPAN.GO.ID

Menurut Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan, yang disebut antariksa yaitu ruang beserta isinya yang terdapat di luar Ruang Udara yang mengelilingi dan melingkupi Ruang Udara.

Thomas menjelaskan mulai ketinggian 110 km atau ketinggian 120 km merupakan batas kritis. Benda jatuh antariksa ada 2 klasifikasi.

Pertama benda jatuh antariksa buatan yaitu sampah antariksa yang sedang dibahas saat ini. Kedua, benda jatuh antariksa alami yaitu meteoroid (bakal meteor), asteroid, dan pecahan komet.

“Sampah antariksa dipengaruhi gravitasi bumi. Ada juga sampah antariksa seperti bekas satelit komunikasi/satelit meteorologi pada ketinggian 36.000 km akan tetap berada di orbitnya,” kata Thomas.

“Tetapi yang orbit rendah dibawah 1000 km akan mengalami efek pengeremen atmosfer sehingga makin lama makin turun ketinggiannya dan jatuh.”

Sebagai contoh Satelit LAPAN-A1 pada ketinggian 630 km, satelit LAPAN-A2 ketinggian 500 km, satelit LAPAN-A3 pada ketinggian 650 km umurnya bisa sekitar 50 tahun.

Tetapi di bawah 300 km hanya beberapa tahun, dan jika lebih rendah bisa beberapa bulan, kemudian jika di bawah ketinggian 150 km hanya bertahan beberapa hari.

Halaman 2 dari 2
Sebelumnya12
Tags: BRINProf Thomas DjamaluddinSampah Antariksa
Bagikan19TweetKirimKirim
Previous Post

Topan Super Hinnamnor Mendekati Kepulauan Ryukyu, Jepang

Next Post

Tahun 1981 Sampah Antariksa Rusia Pernah Jatuh di Gorontalo

Postingan Terkait

5.504 Peserta Mengikuti UTBK-SNBT 2026 di UNG

5.504 Peserta Mengikuti UTBK-SNBT 2026 di UNG

21 April 2026
Waspada Cuaca Ekstrem Berupa Peningkatan Curah Hujan dan Angin Kencang Hari Ini Hingga 16 Februari

Hujan Tidak Merata di Berbagai Wilayah di Indonesia

21 April 2026

Warek UNG: Pengawas Kunci Menjaga Integritas UTBK-SNBT

Papan Informasi Wisata yang Buruk Dapat Merusak Citra Destinasi

BRIN Kembangkan Kapal Pengolah Sampah untuk Kawasan Pesisir dan Pulau Kecil

Banjir Rob Disertai Gelombang Tinggi Menghantam Banggai Laut

UNG Dorong Mahasiswa Lulus Tanpa Skripsi dengan Syarat Menghasilkan Karya Setara Tugas Akhir

Tuna Sirip Biru Terjual Rp 3,9 Juta Per Kilogram di Yilan Taiwan

Next Post
Roket Pendorong China Masuk Kembali ke Bumi

Tahun 1981 Sampah Antariksa Rusia Pernah Jatuh di Gorontalo

Komentar tentang post

TERBARU

5.504 Peserta Mengikuti UTBK-SNBT 2026 di UNG

Hujan Tidak Merata di Berbagai Wilayah di Indonesia

Warek UNG: Pengawas Kunci Menjaga Integritas UTBK-SNBT

Papan Informasi Wisata yang Buruk Dapat Merusak Citra Destinasi

BRIN Kembangkan Kapal Pengolah Sampah untuk Kawasan Pesisir dan Pulau Kecil

Banjir Rob Disertai Gelombang Tinggi Menghantam Banggai Laut

AmsiNews

REKOMENDASI

Buat Mahasiswa, Ini Proses Seleksi di Kapal Penangkap Ikan

Menghitung Alokasi Sumberdaya Ikan di Indonesia

Soal Rempang Eco City, Ombudsman RI: Pemerintah Harus Prioritaskan Kepentingan Masyarakat

Ini Bahaya Peralatan Medis Mengandung Merkuri di Sektor Kesehatan

Persentase Wilayah Jakarta di Bawah Permukaan Laut Terus Bertambah

Kapal Berbahan Bambu Diluncurkan

Kategori

  • Advertorial
  • Berita
  • Biota Eksotis
  • Bisnis dan Investasi
  • Cek Fakta
  • Eksplorasi
  • Hiu Paus
  • Ide & Inovasi
  • Iklim
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Konservasi
  • Laporan Khusus
  • Orca
  • Pemilu & Pilkada
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Travel
  • Video

About

  • Tentang
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Terms of Use
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Trustworthy News Indicators
Dari Laut

darilaut.id

Menginformasikan berbagai perihal tentang laut, pesisir, ikan, kapal, berita terkini dan lain sebagainya.

redaksi@darilaut.id
+62 851 5636 1747

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

Selamat Datang Kembali

Masuk dengan Facebook
Masuk dengan Google+
Atau

Masuk Akun

Lupa Password? Mendaftar

Buat Akun Baru

Mendaftar dengan Facebook
Mendaftar dengan Google+
Atau

Isi formulir di bawah ini untuk mendaftar

Isi semua yang diperlukan Masuk

Ambil password

Masukan username atau email untuk mereset password

Masuk
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Home
  • Berita
  • Pemilu & Pilkada
  • Laporan Khusus
  • Eksplorasi
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Ide & Inovasi
  • Konservasi
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Orca
  • Hiu Paus
  • Bisnis dan Investasi
  • Travel
  • Iklim
  • Advertorial

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.