Namun, Handoko mengakui bahwa kapasitas SDM dalam riset laut dalam masih terbatas. Untuk itu, BRIN terus mendorong peningkatan kompetensi dan infrastruktur guna mendukung eksplorasi serta pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan.
Dalam kesempatan itu, Handoko juga menyampaikan terima kasih kepada Bappenas, yang telah memberikan dukungan terhadap penguatan kapasitas riset kelautan.
Salah satu bentuk dukungan tersebut adalah pembangunan armada kapal riset baru, meskipun saat ini masih dalam tahap awal.
“Saya pastikan akan mengawal prosesnya agar bisa dipercepat. Dalam tiga tahun ke depan, kami harap fase pertama armada kapal riset baru Indonesia bisa terealisasi,” ujarnya.
Di sisi lain, Handoko memastikan kesiapan infrastruktur BRIN dalam mengelola dan menyimpan spesimen hasil riset laut dalam.
Handoko mengatakan pengalaman tim BRIN dalam menangani spesimen dari kedalaman lebih dari 7.000 meter, yang memerlukan teknologi khusus untuk menjaga tekanan saat penyimpanan.
“Saya rasa itu pertama kalinya tim kami menangani spesimen laut dalam dengan tekanan ekstrim. Tapi sekarang kami punya kapasitas untuk mengelolanya dengan baik,” katanya.
BRIN telah melakukan revitalisasi infrastruktur bioteknologi dan biologi molekuler, serta sistem penyimpanan koleksi ilmiah — dari biodiversitas hingga manuskrip kuno — agar bisa digunakan secara kolaboratif oleh peneliti dalam dan luar negeri.




