“Perlu diingat bahwa kita sedang memasuki tahun 2023, yang merupakan tahun terpanas yang pernah tercatat,” ujarnya, mengutip siaran pers WMO (5/2).
“Kemungkinan besar dampak pemanasan dari episode El Nino saat ini akan semakin memperparah suhu panas pada tahun 2024. Hal ini akan menyebabkan lebih banyak kejadian cuaca ekstrem yang merusak kehidupan dan menghancurkan penghidupan.”
El Nino terjadi rata-rata setiap dua hingga tujuh tahun, dan episodenya biasanya berlangsung selama sembilan hingga 12 bulan.
Ini adalah pola iklim alami yang terkait dengan pemanasan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik tropis bagian tengah dan timur. Namun hal ini terjadi dalam konteks iklim yang berubah akibat aktivitas manusia.
Tapia Cortes mengatakan peristiwa El Nino yang terjadi saat ini disebabkan oleh lautan yang sudah menghangat.
“Seolah-olah Anda memiliki bak mandi berisi air panas dan Anda memasukkan lebih banyak air panas ke dalamnya, dibandingkan bak berisi air hangat dan Anda memasukkan air panas ke dalamnya,“ katanya.
Bahaya Kebakaran
Kebakaran ini terjadi ketika banyak negara di Amerika Selatan – termasuk Chili, Argentina, Paraguay, dan Kolombia – mengalami gelombang panas yang terus-menerus dan catatan suhu di banyak stasiun.
Di Santiago de Chile, suhu mencapai 37,3°C pada tanggal 31 Januari, suhu tertinggi ketiga yang tercatat dalam 112 tahun.




