Kegiatan ini ditujukan bagi para profesional di bidang kebudayaan dan warisan budaya, serta otoritas nasional di Amerika Latin dan Karibia, Afrika, dan kawasan Asia-Pasifik.
Para peserta—dua pertiganya adalah perempuan—mewakili otoritas kebudayaan nasional, situs Warisan Dunia (baik alam maupun budaya), museum, penyelenggara kegiatan budaya, universitas, serta organisasi masyarakat sipil.
Direktur Jenderal UNESCO, Khaled El-Enany, mengingatkan bahwa fenomena El Niño tahun 2026-2027 akan memengaruhi setiap aspek mandat UNESCO, seraya menekankan pentingnya mengubah peringatan dini menjadi tindakan dini demi ketahanan yang lebih kuat.
Direktur Entitas Kebudayaan dan Keadaan Darurat (Culture and Emergencies Entity) UNESCO, Krista Pikkat, menjelaskan bagaimana El Niño akan berdampak di tingkat lokal masih belum dapat dipastikan. Peristiwa yang sama bisa mendatangkan hujan lebat dan tanah longsor di satu wilayah, “sementara di wilayah lain justru memicu kekeringan dan kebakaran”.
Mencegah Krisis Kemanusiaan
Kepala Urusan Kemanusiaan PBB, Tom Fletcher, mengatakan bahwa El Niño kali ini sebagai “sesuatu yang sangat masif… layaknya bola penghancur yang kemungkinan besar akan melanda Amerika Latin, Afrika bagian timur dan selatan, Asia, serta Pasifik dengan panas ekstrem, kekeringan, dan banjir.”




