“Kita sering kali melihat traditional ecological knowledge melalui wisdom dari human-centered perspective,” ujar Fadjar
Menurut Fadjar, pendekatan ekologi klasik umumnya hanya memandang pengetahuan lokal sebagai strategi adaptasi manusia terhadap lingkungan atau sebagai mekanisme konservasi sumber daya.
Padahal, pendekatan more-than-human berusaha melihat bagaimana relasi ontologis terbentuk antara manusia dan nonmanusia.
Dalam konteks tersebut, spirit maupun entitas nonmanusia tidak cukup dipahami hanya sebagai bentuk kepercayaan masyarakat, tetapi sebagai bagian aktif dalam kehidupan sosial.
Dalam konsep multispecies sociality, pandangan bahwa dunia sosial tidak hanya terdiri atas relasi antarmanusia. Relasi sosial juga melibatkan hewan, tumbuhan, virus, material, polusi, dan unsur ekologis lainnya yang bersama-sama membentuk kehidupan.
Fajar menyoroti persoalan etika lingkungan. Menurutnya, manusia selama ini cenderung menentukan sendiri apa yang dianggap benar atau salah dalam relasi dengan alam.
Fadjar mencontohkan praktik penebangan mangrove. Dari sudut pandang manusia, penebangan mungkin dianggap wajar selama tidak merusak ekosistem secara keseluruhan.
“Apakah penebangan mangrove itu etis kalau dilihat dari kacamata mangrove?” ujarnya.




