Selain etika, Fadjar menilai tantangan besar lainnya terletak pada metodologi penelitian. Bagaimana peneliti dapat memahami subjektivitas nonmanusia, termasuk memahami agency mangrove, spirit, ataupun unsur ekologis lain.
“Bagaimana kita bisa mewawancarai nonhuman? Bagaimana kita bisa berdiskusi dengan mereka sehingga kita mendapatkan pemahaman tentang agency yang ada di masing-masing elemen nonhuman itu?” ujarnya.
Menurut Fadjar, pertanyaan tersebut menjadi tantangan penting bagi ilmu sosial kontemporer. Karena itu, ia mendorong pendekatan penelitian yang lebih reflektif melalui konsep slow science, yaitu upaya keluar dari posisi manusia sebagai pusat pengetahuan.
Fadjar mengingatkan agar penelitian tidak berhenti pada dokumentasi kepercayaan lokal semata. Relasi manusia dengan spirit atau nonmanusia, tidak selalu berkaitan dengan kepentingan konservasi manusia, tetapi dapat membentuk dunia sosial yang lebih luas.
“More-than-human studies tidak hanya sekadar mendokumentasikan kepercayaan, tetapi melihat bagaimana relasi antara human dan nonhuman membentuk satu dunia,” kata Fadjar.




