Kondisi tersebut mendorong pertanyaan penting dalam penelitian, yakni bagaimana kondisi penyimpanan magma berubah dari periode Old Krakatau, Young Krakatau, hingga Anak Krakatau, serta pada fase mana Anak Krakatau berada dalam siklus evolusi sistem kaldera, kata Aditya.
Penelitian dilakukan melalui analisis terhadap 16 sampel batuan yang berasal dari Pulau Sertung, Panjang, Rakata, dan Anak Krakatau. Sampel tersebut terdiri atas lima sampel lava Old Krakatau, dua lava dan lima batu apung Young Krakatau, serta sembilan sampel lava Anak Krakatau.
Aditya menjelaskan bahwa sejumlah metode digunakan untuk memperoleh gambaran kondisi magma bawah permukaan. Analisis meliputi petrografi menggunakan mikroskop optik, analisis geokimia batuan dengan XRF, analisis kimia mineral dan gelas menggunakan EPMA, pengamatan tekstur mineral magnetik melalui SEM-EDS, serta pengukuran sifat kemagnetan batuan menggunakan magnetic susceptibility dan Isothermal Remanent Magnetization (IRM).
Salah satu pendekatan penting dalam penelitian ini adalah geothermobarometri, yang digunakan untuk memperkirakan tekanan dan temperatur saat mineral mengalami kristalisasi.
Hasil tersebut kemudian dikonversikan menjadi estimasi kedalaman penyimpanan magma, sehingga dapat dibangun gambaran mengenai sistem magma plumbing Krakatau pada setiap periode.




