“Tahun 2023 telah menunjukkan dengan jelas bahwa perubahan iklim sedang terjadi. Suhu yang mencapai rekor panas menghanguskan daratan dan memanaskan laut, karena cuaca ekstrem menyebabkan malapetaka di seluruh dunia,” kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.
“Meskipun kita tahu bahwa ini hanyalah permulaan, respons global masih jauh dari harapan. Sementara itu, menjelang batas waktu Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) pada tahun 2030, dunia sudah keluar jalur.”
“Ilmu pengetahuan adalah inti dari solusi,” tulis Guterres dalam kata pengantarnya.
“Telah dipahami secara luas bahwa ilmu-ilmu yang berhubungan dengan cuaca, iklim, dan air memberikan landasan bagi aksi iklim. Namun masih kurang diketahui bagaimana ilmu-ilmu ini dapat mempercepat kemajuan SDGs secara menyeluruh.”
Sekretaris Jenderal WMO Prof. Petteri Taalas, mengatakan, ”pada momen penting dalam sejarah ini, setengah jalan menuju pencapaian SDGs, komunitas sains bersatu dalam upaya mencapai kesejahteraan bagi manusia dan planet ini.”
“Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang inovatif, seperti pemodelan iklim resolusi tinggi, kecerdasan buatan, dan nowcasting, dapat mendorong transformasi untuk mencapai SDGs. Dan mencapai Peringatan Dini untuk Semua pada tahun 2027 tidak hanya akan menyelamatkan nyawa dan mata pencaharian tetapi juga membantu menjaga pembangunan berkelanjutan,” kata Prof. Taalas.




