Untuk menghadirkan informasi yang akurat, perlu dilakukan pemeriksaan integritas informasi. Hal ini bisa dilakukan dengan berbagai cara dimulai dengan skeptis/ berpikir kritis, melakukan crosschecking/ membandingkan dengan berbagai sumber lainnya, dan seringkali semudah dengan melakukan googling/pencarian di Google.
Mayoritas proses pemeriksaan fakta hanya membutuhkan Google/mesin pencari saja.
Harry mengatakan, makin lama hoaks di Indonesia jadi makin abu-abu, tidak lagi hitam putih/benar salah.
Contohnya, kata Harry, propaganda whitewashing yang dilakukan oleh agen-agen asing di media sosial Indonesia membuat seakan-akan Rusia adalah pihak yang benar di kasus perang Ukrania.

Semua media bisa menjadi sarana penyebaran hoaks. Yang paling sulit dideteksi adalah media yang tertutup, seperti WhatsApp dan Telegram.
Akan tetapi, ”keberadaan hoaks berbagai media sosial kini juga makin sulit untuk bisa dideteksi karena trennya adalah mereka makin menutup akses ke usaha-usaha pemantauan hoaks,” kata Harry.
Sebagai contoh, Twitter/X yang kini menuntut bayaran sampai puluhan ribu dolar Amerika bagi yang ingin melakukan pemantauan di platform tersebut.
Media sosial lainnya juga makin menutup akses ke ruang publik mereka. ”Sehingga para pelaku hoaks makin bebas merajalela. Karena makin sulit memantau sepak terjangnya,” ujarnya. (Sulis Dwi Fadjar Baeda)




