Jika mendapati informasi atau konten yang terdeteksi merugikan dan tidak jelas sumbernya maka cenderung akan bertanya terlebih dahulu kepada si penyebar informasi/konten tersebut.
Misalnya jika temannya yang menyebar, maka akan bertanya kepada temannya “apakah informasi ini benar atau tidak”. Ketika mengetahui bahwa informasi atau konten tersebut termasuk hoaks, maka tidak akan menyebarkanya.
Hoaks cukup sering di media sosial. Sehingga ketika mendapati informasi hoaks tersebut, kata Rifki, ”Langkah yang dilakukan dengan memanfaatkan fitur pelaporan yang ada di platform media digital dengan harapan pihak pengembang dapat memblokir atau setidaknya membatasi akun-akun yang menyebar informasi hoaks tersebut.”
Nala Widyadana Junus (16 Tahun), pelajar di MAN 1 Kota Gorontalo
Informasi hoaks atau palsu bisa membuat banyak orang salah paham atau terkecoh. Terlebih jika orang yang mendapat informasi tersebut merupakan orang yang kurang pemahaman tentang hal-hal tersebut.
Konten-konten hoaks banyak tersebar di media sosial, yang paling sering didapati yaitu di Tiktok dan grup WhatsApp.
Semakin bertambah usia, Nala makin mahir dalam membedakan hoaks dan informasi yang mengandung kebenaran.
Nala cukup selektif memilah-milah informasi yang masuk padanya, biasanya akan mencari bukti-bukti pendukung mengenai informasi tersebut. Jika buktinya mengandung fakta yang kuat, akan menyimpulkan bahwa berita tersebut benar.




