Almahdi selamat, tetapi ia tidak mengetahui apakah rekan-rekannya di kampung halaman, di Pulau Simeulue, juga selamat. Laporan resmi menyebutkan bahwa “Simeulue tenggelam”, sehingga selama lebih dari seminggu ia terus diliputi kekhawatiran akan kemungkinan terburuk.
Pengetahuan Almahdi tentang smong berasal dari peristiwa pada 4 Januari 1907. Gempa berkekuatan 7,6 magnitudo mengguncang Kepulauan Simeulue, dan tak lama kemudian, tsunami dahsyat meluluhlantakkan pesisir Simeulue.
Sejak hari itu, segelintir penyintas bertekad untuk mengenang keluarga yang telah tiada sekaligus menyelamatkan keturunan mereka dengan mewariskan kisah tentang smong kepada anak dan cucu mereka.
Hampir 100 tahun kemudian, pada 26 Desember 2004, seluruh penduduk Simeulue yang berjumlah 70.000 jiwa kembali diingatkan akan smong oleh gempa berkekuatan 9,2 magnitudo. Mereka segera berlari menuju perbukitan dan menyaksikan gelombang raksasa menghancurkan rumah-rumah mereka.
Kearifan lokal smong, yang terus dijaga selama 97 tahun, berhasil menyelamatkan nyawa mereka.
Istilah smong menarik perhatian para peneliti internasional yang ingin mendalami fenomena tersebut. Smong merupakan pengetahuan lokal masyarakat Simeulue –sebelum tahun 2004– tidak diketahui oleh pihak luar.




