Pengetahuan ini mendorong masyarakat Simeulue untuk mengambil tindakan cepat dan tepat saat membaca tanda-tanda alam akan terjadinya gempa bumi dan tsunami.
Terdapat istilah lain untuk tsunami di berbagai wilayah kepulauan Indonesia. Di daratan utama, dikenal istilah Ie-beuna di Banda Aceh dan Aceh Besar, sementara di Singkil, masyarakat menyebut tsunami sebagai Gloro.
Namun, seiring berjalannya waktu, pengetahuan yang melekat pada kata-kata tersebut telah memudar. Akibatnya, banyak nyawa melayang.
Smong berasal dari bahasa Devayan di Simeulue dan merujuk pada rangkaian peristiwa—gempa bumi, surutnya air laut, dan gelombang raksasa—yang menjadi ciri khas kejadian tsunami di Indonesia.
Istilah ini disampaikan melalui nandong, yaitu lagu-lagu tradisional Simeulue:
Enggel mon sao curito (Dengarkanlah kisah ini)
Inang maso semonan (Dahulu kala)
Manoknop sao fano (Desa kita tenggelam)
Unen ne alek linon (Diawali dengan gempa bumi)
Fesang bakat nemali (Kemudian disusul oleh gelombang air)
Manoknop sao hampong (Menenggelamkan seluruh desa)
Tibo-tibo mawi (Segera)
Anga linon ne mali (Jika terjadi gempa bumi yang kuat)
Uwek suruik sahuli (Diikuti oleh surutnya air laut)
Maheya mihawali (Bergegaslah)
Fano me senga tenggi (Larilah ke tempat yang lebih tinggi).




